Dinasty Roman




ROMAN ABRAMOVICH...

Nama yang sontak mengalihkan memory kita akan seorang Russian Billionaire muda yang bergelimang harta (goodluck) Iya… setidaknya ada banyak berita yang dipenuhi beragam cerita tentang kesuksesannya sebagai raja minyak, karir politik menjadi gubernur, asset pribadi berupa boats, planes, houses yang menuai sensasi, sampai dengan privasi rumah tangga yang memang selalu jadi sasaran empuk media B-)
Tidak banyak cerita tentang masa kecil Roman. Dia menghabiskan masa kecilnya bersama paman dan neneknya karena harus jadi anak yatim piatu di usia balita. Sang ibu meninggal saat Roman baru berusia 1 tahun, sedang sang Ayah menyusul 2 tahun kemudian

Lalu…. Hanya sebatas itukah pandangan kita tentang figur seorang Roman ? Keknya masih ada banyak hal positif lain yang bisa dan akan sangat menarik dari seorang Roman Abramovich. Saya terlalu tertarik mengupas seorang Roman yang sukses dalam bisnis, karena ada banyak link yang membahas rinci soal bisnis Roman. Tapi saya malah tertarik melihat seorang Roman yang FOOTBALL CRAZY (muhaha)

Oke kita mulai, keputusannya mengambil alih Chelsea Juni 2003 sempat membuat banyak kalangan mengernyitkan dahi. Awalnya beberapa rival Chelsea di premier league bahkan mencibir dan menghujani dengan komentar pedas tentang aroma kepentingan bisnis di Stamford Bridge (tongue). Tidak mengherankan memang… Chelsea sebelumnya bukan klub kaya yang berani tampil necis dari luar, bahkan untuk bisa bertengger di tabel klasemen liga Inggris saja butuh perjuangan jatuh bangun berkali-kali (gym). Ya…. Sebelum Roman mengambil kepemilikan, Chelsea adalah klub yang belum punya tradisi bagus di liga premier, lemari trophy hanya diisi satu piala liga divisi I yang diraih season 1954/1955 plus beberapa trophy cup competition. Jika harus dibandingkan dengan MU, Arsenal, Liverpool … tentu dianggap sebelah mata.

Begitu Roman datang dan mulai memoles Chelsea dengan interior mewah berkat kemapanan financialnya, tudingan negatif dari klub lain makin menjadi-jadi. Pembelian pemain mahal, investasi gila2an untuk membangun Cobham sebagai tempat latihan mewah bagi Chelsea, dan banyak lagi fulus (money) yang dikucurkan untuk membangun klub ini . Semua tidak langsung berbuah manis, Di musim pertamanya bahkan Chelsea hanya mampu finished sebagai runner up premier league . Keputusannya mendatangkan Jose Mourinho ke SB membuahkan hasil, setelah 50 tahun puasa gelar juara Liga Inggris akhirnya Chelsea mampu merajai liga di musim 2004/2005. Jose bahkan membawa Chelsea sebagai klub back to back champion setelah mengulang kesuksesan juara liga musim berikutnya. Tidak semua berjalan manis-manis saja, tudingan Roman telah menggunakan uangnya untuk membeli piala tidak pernah berhenti didengungkan para rival.
Apa yang salah ??? Kenapa sifat royal seorang Roman disikapi sinis ??
Jawabannya mungkin : SIRIK (tongue)

Keputusan si Gibol untuk membeli Torres dengan nilai transfer yang menembus rekor tertinggi di Inggris dengan iming2 gaji tertinggi betul2 mengundang reaksi berbagai kalangan . Bukan identitas “gila bola” yang jadi sorotan, tapi imbas negatif dari keputusannya. Citra perusak pasaran transfer pemain, pemicu naiknya standar gaji pemain di Inggris, owner yang hanya ingin meraih kesuksesan dengan cara instant. Kenapa bukan decak kagum yang didapat ?? Klu saja kesimpulan ditarik dari sudut pandang lain, Roman adalah seorang penikmat sepakbola yang punya kekaguman terhadap beberapa pemain, termasuk Sheva dan Ballack dan yang terakhir Torres. Tidak ada salahnya mewujudkan impian melihat pemain idola berseragam klub kesayangan, dengan langkah menarik 2 pemain tersebut ke SB . Pelatih boleh saja bilang “Saya tidak butuh pemain seperti si A ato si B”, namun Roman pun berhak penuh untuk bilang “ Saya mau liat mereka main untuk Chelsea” .

Liat saja tampang Roman yang sedang menikmati pertandingan pun kerap menghiasi TV, cukup eksis untuk menonton setiap match Chelsea, menunjukkan reaksi yang sama dengan fans umumnya, mendatangi pemain di ruang ganti, bahkan meluangkan waktu untuk mengikuti Chelsea menjalani partai away. Ini cukup untuk membuktikan bahwa dia memang suka bola, menikmati detil pertandingan, punya fluktuasi perasaan yang sama terhadap penampilan dan hasil akhir yang didapat oleh tim-nya . Saat Roman sampai pada titik kecintaannya akan sepakbola… maka uang bukanlah ukuran untuk sekedar memuaskan keinginan membeli pemain tertentu. Don’t get him wrong … Dia bukan bermaksud petantang petenteng dengan hartanya bukan ?

Hubungan Roman dan Pelatih biasanya mulai merenggang karena beda pendapat soal transfer pemain plus gagalnya pelatih memanfaatkan dengan optimal pemain pilihan Roman. IMO… Roman cukup mengalah dan mengikis keegoisannya soal pemain, terbukti tetep eksis nonton match Chelsea walaupun pemain senior nganggur di bangku cadangan . Umpatan demi umpatan ditujukan ke Roman yang dianggap terlalu bernafsu meraih keuntungan dengan status juara Liga Champions yang banjir bonus, lantas memecat pelatih karena dianggap gagal mendatangkan trophy tsb ke Stamford Bridge .

Bagusnya statistik Chelsea sejak diambil alih Roman diiringi dengan apiknya manajemen keuangan. Dasarnya apa ?? Ingat !!! Roman bukanlah Glazer yang membangun MU dengan hutang , lantas membebankannya pada klub. Bermusim-musim Chelsea melaju dengan financial yang defisit, toh tidak membuat Roman kebakaran jenggot lantas mengunci rapat dompetnya untuk beli pemain berkelas . NOOOO … Roman tetaplah seorang Gibol sejati yang paham betul bahwa sepakbola adalah olahraga, menonton sepakbola adalah salah satu hobbynya, dia punya impian akan sepakbola atraktif dan akan berusaha mewujudkan impian tersebut … termasuk mengambil langkah controversial bila diperluka . Roman tahu itu bahwa Chelsea bukan pundi2 uang untuk memperkaya diri sendiri, tapi Chelsea merupakan klub yang bisa mewujudkan apa yang diinginkannya tentang football. Kalau pun ada langkah bisnis terkait dengan Chelsea, prioritasnya hanya untuk membuat Chelsea berputar secara sehat tanpa perlu merogoh kocek Roman lebih dalam . Toh dengan kondisi minus pun Roman tetap eksis di Chelsea, tetap konsisten membangun klub nya. Realistis bukan ?? Toh semua klub juga punya perencanaan matang untuk mendongkrak keuangan klub
Namun dibalik semua itu, Roman terkenal doyan memecat pelatih di Chelsea. Bahkan saking hobinya, Asosiasi Pelatih Inggris mengkritik dirinya yang berulang kali memecat pelatih Chelsea sejak mengambil alih Chelsea pada tahun 2003

1. Claudio Ranieri (September 2000 - Mei 2004)


Musim pertama Abramovich membeli Chelsea, ia tetap mempertahankan Claudio Ranieri sebagai manajer. Prestasi Chelsea sebenarnya cukup meyakinkan. Mereka mencapai semifinal Liga Champions. Hanya AS Monaco saja yang menyikat mereka dengan agregat 3-5. Tersingkirnya Chelsea sendiri cukup menyakitkan karena di leg kedua, mereka sudah unggul 2-0 dari Monaco —yang membuat Chelsea akan lolos karena unggul agresivitas gol di kandang lawan—-. Namun, klub Prancis berhasil menyamakan kedudukan dalam rentang waktu 15 menit (cry). Tersingkir oleh klub yang levelnya di bawah mereka, Roman Abramovich memutuskan untuk mencopot Ranieri


2. Jose Mourinho (Juni 2004 - September 2007)


Mantan Manajer Porto yang membawa gelar Liga Champions musim 2003/2004. The Special One memang luar biasa untuk urusan kompetisi domestik. Ia mengantarkan dua gelar Premier League berturut-turut setelah Chelsea puasa gelar juara liga selama 50 tahun. Namun, urusan Liga Champions, tidak demikian. Musim pertama Mou menangani Chelsea, mereka kembali terhenti di semifinal. Musim berikutnya, lebih menyakitkan. Chelsea tersingkir di babak 16 besar di kandang sendiri. Musim 2006/2007, Chelsea kembali tersingkir di semifinal. Dan akhirnya musim 2007/2008, Jose Mourinho pergi di tengah jalan (cry)


3. Avram Grant (September 2007 - Mei 2008)


Dengan manajer yang reputasinya kurang terkenal (sebelumnya melatih timnas Israel), Chelsea justru mendapatkan hasil paling bersejarah di era Roman Abramovich. Mereka menembus final. Hanya keberuntungan saja yang membuat Manchester United memenangi adu penalti 6-5. Membawa Chelsea menjadi runner-up tidak membuat Avram Grant aman. Namun ia tetap dicoret di musim berikutnya (wave)


4. Luiz Felipe Scolari (Juli 2008 - Februari 2009)


Musim 2008/2009 adalah musim penuh prahara. Luiz Felipe Scolari yang menangani Chelsea tidak mendapatkan loyalitas John Terry dan Frank Lampard, duo big boss Chelsea di ruang ganti (wave_okok)


5. Guus Hiddink (Februari 2009 - Mei 2009)


Hiddink saat itu ditunjuk manajemen Chelsea menggantikan Luis Felippe Scolari yang dipecat manajemen Chelsea setelah hanya meraih hasil seri kontra Hull City pada 7 Februari 2009. Hanya berselang tiga hari sejak hasil seri tersebut, Chelsea langsung mengumumkan pemecatan Scolari. Hiddink sendiri langsung ditunjuk oleh manajemen Chelsea untuk menggantikan tugas Scolari, meskipun baru duduk di bangku pelatih mendampingi timnya berlaga 10 hari kemudian.

Prestasi Hiddink bisa dikatakan mentereng jika saja 'Skandal Stamford Bridge' di akhir April 2009 tak menjegal langkah Chelsea ke final Liga Champions. Dalam laga penuh kontroversi tersebut, wasit yang memimpin laga antara Chelsea dan Barcelona di leg kedua semifinal Liga Champions yang digelar di Stamford Bridge, Tom Heening Ovrebo, mengeluarkan sejumlah keputusan yang sangat merugikan Chelsea termasuk 'menganulir' empat penalti yang seharusnya diberikan kepada Chelsea. Chelsea yang sudah unggul secara agregat 1-0, harus menerima kenyataan pahit beberapa detik sebelum laga usai, setelah Iniesta sukses membobol gawang Cech dan membuat agregat menjadi 1-1. Barcelona pun lolos ke final menyusul Manchester United berkat keunggulan gol away. (lonely)

Di akhir musim, Hiddink akhirnya sukses membawa Chelsea kembali merayakan pesta juara FA Cup di Wembley setelah dua tahun penuh kesuraman sejak Chelsea ditinggal Jose Mourinho September 2007
Oh iya, Hiddink mungkin menjadi satu-satunya mantan pelatih Chelsea di era Roman yang pernah duduk berjejer dengan sang pemilik asal Rusia tersebut, di luar kepentingan Chelsea dan foto mereka tersebar ke media saat keduanya sedang menonton sebuah pertandingan sepakbola (cozy)


6. Carlo Ancelotti (Juni 2009 - Mei 2011)


Walaupun telah memberikan Double winner diawal musim, bukan alasan pelatih sekelas Don Carlo jauh dari kata pemecatan di musim keduanya yang kurang stabil (cry)


7. Andre Villas-Boas (Juni 2011 - Maret 2012)


Musim ini, manajer muda Andre Villas-Boas didepak dari kursi pelatih chelsea di pertengahan musim. Prestasi hebatnya di FC Porto tak dapat dilanjutkan bersama Chelsea. The Blues tampil tidak konsisten dan menelan 25 persen kekalahan semenjak dilatih Villas-Boas (goodluck)


8. Roberto Di Matteo (Maret 2012 - ……..)


Legenda Chelsea era 1990-an yang sebelumnya menjadi asisten pelatih di era Andre Villas Boas cukup bagus dalam 4 laga terakhir dengan memetik kemenangan penuh, so kita lihat saja sampai akhir musim, semoga Di Matteo bisa mengangkat Chelsea kembali ke Big Four guna mengamankan tiket liga champions untuk musim depan (gym)(gym) 0 komentar

Sharing is caring. Share this article now!

0 komentar:

Poskan Komentar