Kenapa Don Carlo harus dipecat ????



Tepat pada hari Minggu (22/5/2011) waktu setempat, setelah kekalahan timnya 0-1 di Everton Managemen Chelsea memecat pelatih Carlo Ancelotti. Don Carlo mengakhiri karirnya di Chelsea sebagai pelatih Chelsea setelah memberikan trofi Premier League dan Piala FA (Double Winner) dimusim perdananya dan gagal mempersembahkan trophy apapun di musim ini.
Sejak awal, saya memang meragukan kalau dia akan menyelesaikan kontrak tiga tahunnya di Chelsea, di sisi lain agak sulit diterima akal apa yang dilakukan manajemen Chelsea kepada CA. Ada beberapa faktor yang menurut saya menjadi alas atas pemecatan Carlo Ancelotti, yaitu:




1). Roman Abramovich. Memang, faktor kepemilikan tunggal Roman atas Chelsea membuat dirinya menjadi figur yang paling menentukan dalam keputusan-keputusan besar seperti tetap atau tidaknya Don Carlo menjadi pelatih Chelsea musim depan. Jangan salahkan Roman, tolong! Bagaimanapun, 'kerajaan' baru Stamford Bridge lahir karena investasinya yang royal tanpa batas, yang membuat Chelsea begitu mumpuni sebagai kekuatan besar di Premier League. Jangan melihat prestasi tim seniornya saja.Prestasi didikan akademi Cobham belakangan tak kalah moncer. Pemain junior Chelsea menjuarai FA Youth Cup musim lalu. Tim reservenya, yang beranggotakan pemain muda, juga menjadi juara Liga Reserve Team zona Selatan beberapa hari lalu. Terus mereka meneruskan prestasi tersebut menjadi Juara Liga Reserve Nasional setelah mengalahkan Blackburn yg jadi juara zona Utara. Pernah mendengar Nathaniel Chalobah? Dia adalah kapten Timnas Inggris U-17 yang akan berlaga di Piala Dunia U-17 di Meksiko mulai 18 Juni mendatang. Siapa Chalobah? Dia pemain didikan akademi Cobham Chelsea. Tak dipungkiri, segudang bintang memang pernah didatangkan ke Stamford Bridge, tapi di saat yang bersamaan Chelsea juga memproduksi pemain muda macam Chalobah dan McEachran yang siap menggantikan kebintangan Terry dan Lampard. Jadi, jika Roman selalu menuntut lebih, jangan disalahkan, dialah faktor penting dari semua perkembangan yang terjadi di Stamford Bridge.

2). Eksperimen Don Carlo dalam formasi tim. Don Carlo adalah pelatih yang jenius, tak ada keraguan untuk hal itu. Tapi, terkadang pilihannya membuat Chelsea seperti berada dalam situsi 'bunuh diri' sebelum berlaga. Kenapa? Don Carlo seringkali menggunakan tenaga pemain yang sudah jelas hanya mengganggu alur permainan tim ketimbang memilih opsi yang lebih baik. Kembali ke masa krisis Chelsea di bulan November 2010. Saat itu, Don Carlo sepertinya terlalu mempercayai bahwa akan ada keajaiban yang muncul jika ia memainkan Kalou sebagai starter di sayap kanan dan juga Ferreira yang sudah jauh menurun skillnya untuk dipasang sebagai bek kanan. Tak ada keajaiban yang tercipta. Kenapa Kalou, pemain yang terlalu lama menahan bola, hingga akhinya membuang kesempatan timnya? Padahal ia memiliki Anelka, Sturridge, yang ternyata tampil luar biasa dalam masa pinjamannya ke Bolton. Kenapa Ferreira? Padahal Bosingwa sudah menunjukkan performa yang bagus di dua laga comebacknya setelah cedera patah kaki selama setahun. Kenapa harus meletakkan pemain yang lebih baik di bangku cadangan? Hanya Ancelotti yang bisa menjawabnya dan satu lagi, krisis di Chelsea sebenarnya juga tak lepas dari peran Don Carlo di dalamnya.

3). Ironisme Don Carlo di Liga Champions. Agak sulit dimengerti kenapa pelatih yang bisa membawa AC Milan juara Liga Champions di 2003 dan 2007, serta beberapa kali memasuki semifinal dan final 2005, malah membuat Chelsea yang sebelum dilatih Carlo Ancelotti, meraih satu tempat di semifinal di empat edisi Liga Champions (2004, 2005, 2007 dan 2009) serta satu tiket final di tahun 2008, malah menjadi tim yang alergi dengan kompetisi 'Big Ear'? Chelsea tak pernah dua tahun berturut-turut gagal ke semifinal di era Roman Abramovich. Tapi, Carlo melakukan hal itu terhadap Chelsea. Lupakan faktor Ramires yang seharusnya mendapat penalti di leg pertama kontra MU April lalu, faktanya, Chelsea memang tak bermain bagus atau tidak cukup hebat untuk bisa mengulang prestasi di edisi sebelumnya dan bahkan terlalu buruk untuk menjadi juara. Pelatih selalu menjadi sasaran utama dalam kondisi seperti ini. Tak ada alasan, itu sudah menjadi sebagian dari 'kewajiban' seorang pelatih, menerima kritik dan menerima perbandingan.

4). Don Carlo kekurangan kreasi. Sangat jarang ditemui, jika Chelsea dalam posisi tertinggal, maka tim asal London Barat ini akan membalikkan keadaan. Sebagian besar kekalahan Chelsea diawali keunggulan lawan terlebih dahulu. Don Carlo sepertinya selalu kesulitan untuk membawa perubahan taktik dalam tubuh timnya saat hal tersebut dibutuhkan. Artinya, saat harus menghadapi situasi dimana ia harus membuat keputusan secepat mungkin, karena pertandingan di depan mata, maka di saat itu juga ia seperti tak punya alternatif yang brilian untuk merubah situasi. Ia jarang merubah formasi timnya meskipun melakukan pergantian pemain. Persoalan motivasi pemain, taktik di lapangan, pemilihan line up, pergantian pemain tampaknya jadi sekelumit “pertanyaan” buat CA yang kerap tak direspon dengan tepat oleh ybs. Motivasi adalah elemen terpenting yang menentukan keberhasilan, tapi jujur saya meragukan kemampuan Carlo Ancelloti memotivasi pemain.. terutama di partai2 krusial. Lupakan soal cidera pemain yang juga kerap disebut-sebut sebagai penyebab kegagalan Chelsea, toh saat berada di kondisi pemain yang nyaris 100% fit dan full squad Chelsea juga tidak menunjukkan performa semestinya dan kalah spirit dari rival

5). Tradisi sebelumnya. Ya, di era Roman tak ada satupun pelatih yang gagal mempersembahkan gelar atau membawa tim dalam jurang krisis di akhir musim tidak dipecat. Lihat Ranieri, Scolari atau Grant. Semuanya gagal mempersembahkan gelar dan menjadi pelatih Chelsea di periode-periode buruk.

6). Gagal merespon positif kepergian Ray Wilkins. Oke,,kita semua tahu, prestasi Chelsea melorot setelah RW tak diperpanjang kontraknya (bukan dipecat). Saya paham jika sebagai partner, DC merasa kehilangan apalagi sebagai sesama sosok yang pernah memberikan sesuatu untuk Milan (RW mantan pemain AC Milan). Wilkins mungkin menjadi satu2nya sosok translater dari semua strategi DC di atas lapangan. But, hey.... ini soal profesionalisme. Saya mengamati dia sepertinya sudah tidak sepenuh hati menangani tim ini (baca analisa no.3), strateginya, optimismenya, berapa kali kita mendengarkan DC bicara soal "bendera putih"??? Kompetisi bahkan belum usai, jika ia ingin bicara soal peluang, kok saya pikir akan lebik jika dia mengatakan semua hal itu secara tersirat (mis, MU lebih berpeluang,,bukannya malah bilang Chelsea sudah habis Fans berharap lebih itu wajar. Karena Don Carlo udah ngasi standar tinggi di awal kepelatihannya (Double Winner).

Jadi intinya... Don Carlo dipecat bukan karena keputusan Roman yang membabi-buta, tp didasari kenyataan bahwa memang Carlo Ancelloti tidak melakukan tugas dengan baik musim ini. Wajar jika Chelsea tidak mengambil resiko lebih besar untuk memberinya kesempatan di musim depan. Bukan berarti dengan menunjuk pelatih baru resikonya lebih kecil ya, tapi mungkin akan lebih "MENARIK" buat mereka yang suka “TANTANGAN

Nah pertanyaanya kenapa Carlo Ancelloti harus dipecat ?? menurut saya karena dia tidak melakukan tugas dengan baik musim ini dan berpotensi akan lebih buruk bagi Chelsea jika diteruskan musim depan 0 komentar

Sharing is caring. Share this article now!

0 komentar:

Poskan Komentar